Tag: Murphy Law

  • Bergaul Dengan Kelompok Tapi Jangan Pura-Pura Supaya Diterima

    Bertahun-tahun yang lalu ketika saya masih terlihat muda, saya terbiasa main ke beberapa grup pertemanan yang masing-masing grup ini memiliki kebiasaan dan topik yang berbeda.

    Semua ini saya lakukan secara natural saja, karena saya merasa yang mereka lakukan itu menarik jadinya ikut ngumpul dan mencoba memahami apa yang membuat mereka suka.

    Meskipun pada akhirnya tidak semua kesukaan grup itu cocok, namun saya menyukai aura ketika mereka sedang membahasnya. Saya juga jujur ketika saya nggak tertarik dengan yang mereka kerjakan tapi saya suka berada disana.

    Ternyata mereka tidak mengusir dan justru malah sering mengundang untuk terus datang.

    Pernah di suatu masa, saya sering nongkrong di sebuah bengkel motor sepulang sekolah. Soalnya di jaman itu bisa ngerti motor itu akan dianggap keren, jadilah saya menghabiskan waktu sore untuk berada disana, ngobrol dengan temen-temen yang memang hobi utak-atik motor, melihat mereka mencari kerusakan sampai akhirnya mesin bisa menyala kembali.

    Apakah sekarang jadi suka utak-atik motor? Tentunya tidak. Buat saya motor masih sebatas alat transportasi saja, bahkan sekarang saya nggak punya sepeda motor haha.

    Tapi berkat ngobrol dengan mereka, saya jadi suka merakit sepeda, lebih sabar ketika ketemu masalah, dan yakin bahwa semua masalah itu pasti ada solusinya meskipun perlu waktu.

  • Terkadang Kegagalan Berasal dari Keinginan Terlalu Ingin Menang

    Pernahkah mengalami kegagalan? Pastinya pernah ya. Menurut Murphy Law, ketika kita terlalu memiliki keinginan untuk selalu menang, maka biasanya yang akan didapatkan malah sebuah kegagalan.

    Sedangkan ketika memutuskan untuk tidak berebut, maka keinginan itu akan lebih mudah tercapai. Sebab, karena memutuskan tidak berebut jadinya tidak ada yang bisa merebutnya.

    Menarik, karena setiap hari itu kita akan dihadapkan dengan berbagai macam pilihan keputusan, baik yang skala kecil ataupun besar. Semuanya akan berujung ke 2 hal, berhasil atau gagal.

    Contoh yang simpel, misalnya keinginan untuk mendapatkan tempat di MRT. Jika dari awal sudah berencana bahwa hari ini harus bisa naik MRT di jam tertentu maka alam bawah sadar kita akan membuat kita berangkat ke stasiun lebih awal supaya bisa memiliki peluang lebih untuk mendapatkannya.

    Ini wajar dilakukan.

    Namun, jika keinginannya bertambah, misalnya selain bisa berangkat di jam tertentu namun juga ingin bisa dapat tempat duduk. Maka disinilah semuanya berubah, karena ada tambahan keinginan yang membuat tubuh menjadi lebih tegang meskipun MRT sudah ada di depan mata.

    Akibatnya masuk menjadi berebut, tidak sabar, bahkan bisa berpotensi melukai orang lain. Namun pada akhirnya, tempat duduk yang diincar seringnya tidak didapatkan.

    Terkadang, ketika kita melepaskan diri dari kegiatan berebutan, justru malah kita bisa mendapatkannya.