Tag: mudik

  • Nggak Semua Orang Mudik

    Selama seminggu terakhir ini setiap ketemu sama orang yang dikenal, selain mengusahakan untuk bersalaman dalam rangka bulan syawal, juga sekaligus bertanya mudik kemana.

    Sebagian orang menjawab tidak mudik karena memang orang asli Jakarta jadi mudiknya ya paling ke wilayah lain namun masih di Jakarta.

    Tapi seperti tulisan saya sebelumnya, memang benar ada beberapa orang yang sengaja tidak mudik ke kampung halaman karena memang tidak punya alasan lain.

    Rata-rata mereka memutuskan untuk liburan bersama keluarga sendiri, menikmati momen IdulFitri bersama keluarga kecilnya, atau ada juga yang memang sengaja tidak mudik karena menghindari keluarga besarnya.

    Ini adalah lebaran tahun pertama kami di Jakarta, selama ini menganggap semua orang yang di Jakarta itu bakalan mudik ke kampung halamannya masing-masing.

    Tapi ternyata, nggak semua orang mudik.

  • Konsisten Olahraga Itu Perlu Dijaga

    Hari ini saya mulai ngegym lagi setelah hampir sebulan tidak olahraga karena sudah mudik duluan. Sebetulnya PT saya memberikan PR untuk berolahraga selama di Jogja, tapi ternyata PR itu tidak berhasil saya kerjakan jadinya praktis selama di Jogja sampai hari ini saya hanya goler-goler.

    Seperti yang sudah saya duga, hari ini cukup berat meskipun PT saya memberikan menu latihan yang tidak seberat biasanya, tapi rasanya nafas cepat habis, keringat keluar lebih banyak, dan minum air lebih banyak.

    Selesai latihan, rasanya seperti dipukuli puluhan kucing. Perjalanan ke kosan jadi terasa jauh dan melelahkan. Ini mengingatkan saya saat pertama kali latihan haha.

    Di perjalan pulang saya merenung (maap saya tidak punya padanan kata yang pas), bahwa menjaga konsistensi apapun, termasuk olahraga itu lebih susah dibandingkan saat memulainya. Apalagi ketika kita sudah melihat sedikit hasil di dalam prosesnya, rasanya tu ada godaan cepat puas yang ingin mengakhiri semuanya.

    Saya akui, sekarang ini jika melihat cermin itu saya lebih seneng karena melihat bentuk badan sendiri. Rasanya tu kayak udah cukup ah, nggak usah nge-gym lagi soalnya badannya sudah lebih bagus.

    Tapi ternyata, perasaan itu adalah jebakan, sebab hanya dengan waktu kurang dari sebulan nggak latihan saja, kondisi badan saya langsung ngedrop mirip seperti 9 bulan yang lalu.

    Jadi, buat yang sekarang sedang bertarung untuk mencapai sesuatu, tetap ingat alasan kenapa mau melakukan itu. Gunaka itu sebagai pengingat ketika nanti suatu saat rasa sombong dan cepat puas itu mulai datang.

  • Kembali ke Jakarta

    Hari ini saya sudah kembali ke Jakarta, perjalanan menggunakan kereta api Taksaka pagi yang saya pikir bakalan sepi, rupanya tetap ramai dengan pemudik yang sudah mulai kembali ke kota asal.

    Perjalanan lancar dan tepat waktu, suasana kereta juga riuh dengan anak-anak yang ikut serta di perjalanan ini. Sepanjang jalan cuaca juga cerah, paling sempat hujan deras ketika melewati Bekas, tapi sesampai di Gambir sudah cerah.

    Awalnya kami mau menggunakan MRT untuk menuju ke kosan, tapi melihat banyaknya bawaan dari Jogja, akhirnya memutuskan untuk menggunakan taksi Green SM yang sudah biasanya standby di pintu pejalan kaki Stasiun Gambir.

    Tips untuk naik Green SM dari situ adalah, pastikan gunakan aplikasi dengan mode Green Now, kemudian sebelum masuk pastikan sebutkan bahwa mau pakai Green Now. Karena kalau tidak maka sopir akan berusaha menggunakan argo. Jadi pastikan selalu bilang di awal ya. Oh iya, siapkan 5 ribu rupiah untuk parkir.

    Jakarta sore ini cukup lengang, titik kemacetan yang biasanya ada di Bundaran HI, Sudirman, Senayan, dan Blok M tidak terlalu terlihat. Perjalanan cukup lancar hingga sampai ke kosan.

    Akhirnya usai sudah ritual mudik kami yang sengaja diakhiri lebih awal, selain karena hari Selasa mendatang saya sudah mulai ngantor, juga untuk mengurangi keterlibatan acara halalbihalal yang bisa berlangsung sangat panjang dan lama. Bukan kenapa-napa, selain sudah nggak kenal dengan yang ditemui, juga harus mempersiapkan jawaban dari pertanyaan yang selalu kami hindari selama ini wkwkwk.

    Hello Jakarta!

  • Mengambil Hak Orang Lain Tanpa Sadar

    Pagi tadi, saat menyetir ke perjalan mudik, awalnya perjalanan lancar karena kami berangkat dari Jogja tepat sehabis Subuh. Setiba di Pasar Ambarawa kami tertahan hampir 15 menit lamanya karena kemacetan yang menurut saya tidak perlu terjadi.

    Setelah 15 menit berlalu dan kami berhasil melewati kemacetan itu, saya membayangkan terkadang kita itu sering mengambil hak orang lain tanpa sadar.

    Apa saja contohnya?

    1. Menahan traffic. Misalnya ketika berjalan pelan di lajur yang tidak semestinya, memotong kendaraan lain dengan agresif, menyeberang jalan sesuka hati, memutar balik pada area terlarang.
    2. Tidak lurus saf saat shalat berjamaah. Tumit tidak berada di dalam area namun malah lebih mundur ke belakang, akibatnya mengambil area sujud jamaah di belakangnya.
    3. Parkir mobil di jalan depan rumah, mengakibatkan kendaraan tetangga kesulitan untuk lewat atau parkir di garasinya. Punya dua mobil padahal garasi cuma satu, atau malah punya mobil tapi nggak punya garasi.
    4. Tidak mengembalikan uang atau barang yang dipinjam.

    Masih banyak banget contoh korupsi dan pencurian kecil-kecilan ini. Biasanya semua dilakukan tanpa sadar karena selama ini tidak ada yang menegur, sehingga merasa yang dilakukan itu wajar dan tidak salah.

    Padahal, ketika kita melakukan itu dan ada doa dari orang lain yang terambil haknya, maka semua dosa akan berpindah, rezeki akan ditukar, dan kita menjadi merugi.

    Tulisan ini saya buat sebagai pengingat ke diri sendiri supaya selalu menjaga lisan dan perilaku. Mudah-mudahan di hari terakhir Ramadhan ini kami dan kita semua bisa menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya.

    Aamiin.

  • Apakah Kamu Mudik?

    Ini adalah pertanyaan basa-basi saya ke beberapa kenalan di kantor, beberapa hari sebelum saya mudik ke Jogja.

    Ternyata, dari beberapa orang yang saya tanyain itu, tidak semuanya berencana mudik pada lebaran tahun ini. Alasannya bermacam-macam, mulai dari sedang shift kerja, ada rencana mengajak keluarganya untuk datang ke Jakarta, atau yang memang tidak berniat pulang kampung.

    Dulu saya berpikir, ketika seseorang pergi merantau ke tempat yang jauh, pasti ketika lebaran akan berusaha menyempatkan pulang kampung, bertemu dengan orang tua dan keluarga. Jarak dan waktu yang ditempuh akan terbayarkan ketika pada hari besar itu bisa berkumpul dengan keluarga.

    Itu yang saya bayangnya saat itu.

    Namun setelah ngobrol dengan beberapa orang tadi, saya menyadari ada sebagian orang yang memang tidak bisa dan tidak ingin mudik. Alasannya bermacam-macam, seperti yang sudah saya sebutkan tadi.

    Tapi ada satu jawaban yang buat saya berkesan.

    “Buat apa mudik? saya tiap hari ngobrol dengan keluarga besar di grup Whatsapp, semua informasi ada disana, mulai yang bermanfaat sampai yang hoax. Pada update status dan kirim-kirim video lucu juga setiap hari, jadi buat apa mudik?”

    Bener juga sih dan itu valid.

    Dulu orang mudik karena terpisah oleh jarak dan waktu, namun ketika masalah jarak dan waktu itu sudah diselesaikan dengan teknologi, pelan-pelan orang akan merasa itu bukan alasan untuk melakukan perjalanan jauh dan mahal itu.

    Perlu alasan baru untuk mudik, tidak bisa sekadar masalah jarak dan waktu semata.

    Apakah kamu mudik Lebaran tahun ini? Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan hingga kembali lagi ke rumah.

  • Ternyata Perlu Hibernasi

    Apa yang akan saya lakukan ketika sampai di Jogja? Itu adalah pikiran saya ketika dalam perjalanan mudik kemarin. Ada beberapa kegiatan yang sudah direncanakan di hari Minggu ini, mulai dari pengecekan beberapa area di rumah yang memang sudah perlu ada perawatan, hingga melakukan beberapa hal yang tertunda.

    Tapi, manusia hanya bisa berencana.

    Hari Minggu ini, selepas mandi, masih jam 9.30 pagi, mata rasanya berat sekali.

    Sepertinya tidur sebentar oke juga ya? Paling 30 menit aja untuk kemudian lanjut melakukan sesuatu.

    Tapi ternyata, rencana 30 menit itu bablas sampai 5 jam! Wkwkwkwk… Iya, saya bangun menjelang Ashar.

    Rupanya badan ini sedang minta hibernasi sejenak, dia tau kalau sekarang sedang di rumah dan minta diprioritaskan untuk sementara.

    Jadilah, hari Minggu pagi saya dipakai untuk tidur siang.