Tag: mental health boundaries

  • Stop Curhat ke AI

    Beberapa kali saya mendapatkan cerita tentang serunya ngobrol dengan AI. Sekarang ini AI seperti ChatGPT dan Gemini sedang berada di masa jayanya, dimana kemampuan berpikirnya sudah berkembang eksponensial.

    Saya sendiri sering berdiskusi dengan Gemini terkait dengan pekerjaan dan kegiatan sehari-hari. Kenapa Gemini? Selain karena merupakan tools resmi dari kantor, saya juga pengguna Gmail.

    Tapi yang perlu dicatat adalah, AI tidak punya empati. Mereka merespon pertanyaan kita dengan statistik. Jawabannya kemudian dibungkus dengan persona yang sudah diatur sesuai dengan keinginan kita.

    Jika kita ngobrol dengan topik pekerjaan dan/atau daily task, maka itu saat cocok. Sebab AI punya kemampuan untuk memberikan solusi yang logis dan efisien untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan tersebut.

    Catat, “logis dan efisien”.

    Apa yang terjadi kalau kita mencoba curhat yang membawa perasaan ke AI? Maka dia tetap meresponnya dengan cara yang sama, logis dan efisien.

    Tidak heran (secara default) kita akan lebih sering mendapatkan validasi dan mendapatkan respon yang kita inginkan. Sekali lagi, karena ini faktor statistik supaya hasilnya logis dan efisien.

    Untuk membuktikannya, coba ajak ngobrol satu topik saja yang cukup personal, gunakan akun berbeda jika concern dengan privasi. Beberapa hari kemudian, revisit dan baca pelan-pelan respon yang kemarin diberikan.

    Saya tidak punya background psikologi, tapi saya merasa jika saya berada di kondisi yang sesungguhnya, maka semua jawaban dari AI pada saat itu akan terasa benar dan semua yang ada di pikiranku itu valid. Kemudian jika kondisi sudah tenang, beberapa hari kemudian jawabannya jadi terasa aneh.

    Stop curhat dengan AI, perlakukan AI seperti kolega di kantor yang cocok untuk ngobrolin tentang kerjaan, tapi bukan untuk ngomongin hal personal ataupun atasan.