Categories
Tulisan

Apakah Jempol Murahan?

Berawal dari obrolan di grup WhatsApp Loenpia.Net tentang keprihatinan terhadap beberapa pihak yang kerap melakukan hal-hal tidak lazim di Internet, kemudian merembet ke aktivitas yang tidak masuk akal, termasuk kebiasaan menyebarkan konten dari grup WhatsApp satu ke grup lainnya tanpa melakukan konfirmasi, memunculkan istilah Jempol Murahan.

Jempol Murahan adalah sifat seseorang yang lebih sering menggunakan jempolnya daripada hatinya.

Eh tapi omong-omong, tidak terasa tahun 2017 segera berlalu, terakhir kali menulis di blog adalah ketika ulang tahun Loenpia.net yang ke 12 di bulan Oktober.

Sudah cukup lama ya? Mau cerita sedikit ah…

Selama 3 bulan terakhir ini lebih banyak disibukkan dengan pekerjaan yang berkaitan dengan social media. Misalnya merawat mesin analitik social media milik kantor, turut berkontribusi membangun “Chatbot” yang bisa berjalan di social media, hingga membantu membangun beberapa website sekaligus mengoptimasinya. Alhasil, saya ikut terpapar segala konten yang berasal dari social media, dan itu terkadang membuat saya prihatin.

Saya bukan pengguna social media aktif, di smartphone hanya menginstall Twitter, Facebook dan Instagram, itupun juga karena pekerjaan yang mengharuskan saya untuk memilikinya. Selebihnya hanya aplikasi WhatsApp untuk berkomunikasi dan terjebak masuk ke grup-grup nggak jelas, terutama grup keluarga.

Saya sudah hidup di Internet lebih dari 15 tahun, dan sudah cukup mengerti bagaimana Internet ini bekerja. Adapun tujuan Internet lahir pada awalnya adalah untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain yang terpisah jarak dengan waktu yang singkat. Zaman dulu, komunikasi yang bisa dilakukan pada awalnya berupa teks, kemudian berkembang bisa saling bertukar gambar, suara, video secara bergantian. Zaman now? Kita bisa melakukannya secara real-time.

Kemudian saat ini pengguna Internet di Indonesia telah menyentuh segala lapisan usia dan latar belakang, siapapun dapat menggunakan Internet hanya dengan bermodalkan smartphone 800 ribuan dan koneksi WiFI. Pada satu sisi, perkembangan ini cukup menggembirakan. Penetrasi Internet hingga ke daerah merupakan impian kami sejak dulu, karena keterbukaan informasi itu merupakan hak asasi manusia.

Namun sayangnya, kecepatan penetrasi ini tidak diimbangi dengan edukasi yang cukup kepada penggunanya. Meskipun ada gerakan Internet Sehat, cakupan yang bisa kami jangkau sangat terbatas apabila dibandingkan dengan jumlah pengguna baru Internet setiap harinya. Alhasil, saat ini bisa dibilang banyak pengguna Internet yang kurang cakap menggunakan Internet. Apabila diibaratkan, mirip seperti anak kecil yang diberi sepeda motor kemudian dia menyetir ke jalan raya. Selain bisa membahayakan diri sendiri, juga bisa membahayakan orang lain.

Apapun yang ada di Internet, siapapun bisa membuatnya. Ini adalah poin yang kurang disadari.

Kembali ke topik Jempol Murahan.

Beberapa kali saya meladeni postingan di grup keluarga, terutama ketika ada seorang anggota grup posting artikel yang seakan-akan benar. Niatnya mungkin baik, ingin menyebarkan informasi yang dirasa berguna, namun isi kontennya tidak divalidasi. Biasanya isi postingannya ada kata-kata yang manis, terkadang disisipi dengan kutipan artikel, jurnal, penelitian, atau bahkan ayat suci, kemudian sering ada nama-nama populer yang mendukungnya, paling terakhir dan pasti tidak akan lupa, adalah ajakan untuk ikut menyebarkan informasi itu ke rekan-rekan yang lain. Saking seramnya, kadang diberi ancaman apabila tidak ikut menyebarkan maka akan mendapatkan musibah.

Wow!

Musibah bisa didownload dari Internet.

24273877 1201112846687218 467322294526734368 o

Kegiatan seperti ini harus dihentikan! Saat masih aktif mengadakan pengabdian yang bertemakan Internet Sehat, saya sering bilang ke peserta untuk jangan percayai apapun di Internet. Sifat ini harus ditanamkan dalam kalbu dimasukkan ke dalam pikiran, dan dilakukan ke dalam perbuatan. Karena nanti secara otomatis kita akan melakukan validasi terhadap berita yang baru saja kita baca.

Selain itu, jangan cepat untuk menyebarkan apapun dari Internet. Kenapa? Ya karena apapun di Internet tidak bisa dipercaya.

Cek dulu kebenarannya, jangan sampai Anda dicap sebagai Jempol Murahan.

Ditulis dalam rangka kampanye Anti Jempol Murahan oleh Komunitas Blogger Loenpia.Net. Tulisan lainnya:

  1. Didut – Jangan Jadikan Jempolmu Muarahan
  2. Daeng Ipul – Jangan Jadi Bagian Jempol Murahan
  3. Gita – Biar Jempolmu Ngga Jadi Jempol Murahan
  4. Jiban – Jempol Murahan=Jempol Kadaluarsa
  5. Mbak Latree – Jangan Jadi Jempol Murahan
  6. Bunsal – Nggak Mau Jempol Murahan? Ini Cara Asyiknya
  7. Okky – Kamu Kaum #JempolMuarahan?
  8. Mbandah – Jempol Murahan, Cek sebelum Share
  9. Slam – Jempol Murahan Musuh Baru di Sosial Media
  10. Arief – Jempol Murahan dan Echo Chamber
  11. Budiyono – Waspadai Jempol Murahan di Sekitar Kita
Categories
Tulisan

Seloesin Loenpia.Net

Selamat Ulang Tahun Ke 12 Komunitas Blogger Semarang, Loenpia.Net.

Tidak terasa komunitas yang dibangun dengan iseng-iseng saja, sekarang sudah berubah menjadi sebuah keluarga. Pertemanan yang hanya bermula dari pertemuan di dunia maya, sekarang sudah berubah menjadi bagian keluarga yang tidak terpisahkan setiap hari. Obrolan yang tadinya seputar teknologi dan Internet, sekarang sudah berubah menjadi obrolan seputar info diskon susu dan popok.

Iya, kami telah berubah.

Berubah ke arah yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Kami berubah dari komunitas berisikan anak muda, menjadi komunitas manusia berumur yang sudah tidak tahan lagi dengan angin malam. Niatan untuk kopdar biasanya akan berakhir menjadi wacana yang tak berkesudahan, namun uniknya jika tidak ada niatan untuk bersua, maka secara ajaib akan tercipta acara kopdar dadakan. Isi obrolannya juga sudah berubah, tidak lagi ngomongin blog, tapi sudah ngomong masalah kesehatan atau investasi masa depan.

Begitulah, pertemanan hingga belasan tahun memang membuat siapapun yang berada di lingkaran itu menjadi kuat. Mudah-mudahan bisa terus bertahan hingga seterusnya, sampai ke generasi selanjutnya.

Categories
Tulisan

Selamat Ulang Tahun ke-8 Loenpia.Net

Delapan tahun, seperti apa bentuk manusia ketika sudah berusia 8 (delapan) tahun? pastinya sudah mulai belajar bertanggung jawab dan dikenalkan dengan berbagai pelajaran hidup secara perlahan. Usia yang sudah melewati masa balita, dimana pemilik umur sudah mulai bisa menatap dunia dengan visi kanak-kanaknya. Semua dilalui tanpa terasa seiring dengan bertambahnya waktu yang sedang dijalani.

Sebuah komunitas, yang terbentuk karena adanya kesamaan hobi, visi, tujuan, ataupun minat akan selalu dapat bertahan selama masih memiliki kesamaan tersebut. Rasa memiliki terhadap sebuah komunitas juga akan semakin memperkuat pondasi, serta kekuatan jalinan pertemanan antar anggotanya akan membuat komunitas semakin dimiliki. Tanpa sadar, sebuah keluarga baru telah tercipta.

Loenpia.Net, sebuah komunitas yang pada awalnya hanya terdiri dari segelintir manusia dengan perbedaan latar belakang, pendidikan, dan asal-usul ternyata dapat bertahan hingga sekarang. Lokasi dan jarak sudah tidak menjadi hambatan untuk saling berkomunikasi, bertukar kabar, bercanda, dan kadang kala… saling berargumentasi atau saling mencintai. Luar biasa keluarga ini.

Sewindu, bukan usia yang singkat, juga bukan batas maksimal. Masih banyak perjalanan yang akan dilalui, masih banyak cerita yang akan tertulis, dan masih banyak pertemanan yang akan terjalin. Selamat ulang tahun Loenpia.Net

#Loenpia8