Tag: Lego analogy

  • Belajar Agile dari Kotak Mainan

    Kalau kamu paham cara main Lego, kamu sebenarnya sudah paham 80% konsep Agile.

    Jangan Buat Robot Raksasa Sekaligus!

    Bayangkan kamu ingin membuat robot dari Lego. Kalau pakai cara lama (Waterfall), kamu harus cari semua baloknya, pasang semuanya sampai selesai, baru boleh dinyalakan. Kalau di akhir ternyata kakinya copot? Kamu harus bongkar semuanya. Capek, kan?

    Di Agile: Kita buat kepalanya dulu. Klik! “Wah, kepalanya keren!” Terus kita buat badannya. Klik! Setiap hari, robotmu bertambah hebat. Di kampus, ini namanya Iterasi.

    “Bagus Gak, Bun?” (Tanya Terus!)

    Ingat tidak saat kamu menggambar lalu setiap lima menit sekali kamu lari ke Bunda buat pamer? Bunda bilang: “Kasih warna matahari dong!”, terus kamu balik lagi buat mewarnai.

    Di Agile: Kita tidak menunggu aplikasinya jadi 100% baru ditunjukkan ke dosen atau klien. Kita tunjukkan sedikit-sedikit supaya kalau ada yang salah, kita tidak capek memperbaikinya. Ini namanya Feedback Loop.

    Main Oper-Operan Bola

    Membuat aplikasi itu bukan kerja sendirian di pojokan kamar. Itu seperti main bola di lapangan. Kamu oper ke teman, temanmu lari, lalu cetak gol.

    Di Agile: Kita punya ritual namanya Daily Stand-up. Isinya cuma ngobrol sebentar: “Tadi aku buat ini, sekarang aku mau buat itu, eh tolong bantuin yang ini ya!” Intinya: Jangan diam-diaman kalau ada masalah.

    Rencananya Berubah? Gak Masalah!

    Lagi asyik bikin mobil-mobilan, tiba-tiba kamu ingin mobilnya bisa terbang. Kalau kamu pakai Agile, kamu tinggal pasang sayap di sampingnya. Selesai!

    Di Agile: Kita tidak kaku dengan rencana awal yang dibuat di kertas. Kalau ada teknologi baru atau kemauan klien berubah, kita tinggal Adaptasi. Seperti main Lego, tinggal lepas satu balok, pasang balok lainnya.

    Agile itu bukan ilmu gaib. Agile cuma cara biar kita tidak pusing saat membuat sesuatu yang besar. Caranya: Mulai dari yang kecil, sering-sering pamer hasil kerja, dan jangan pelit ngobrol sama tim.