Tag: Lebaran

  • Melewati Kuartal Pertama 2026

    Hoho tidak terasa hari ini sudah akhir dari kuartal pertama tahun 2026, cepat sekali ya? Kayanya baru minggu lalu kita mendengar suara dar-der-dor kok tau-tau sekarang sudah mau masuk kuartal dua.

    Saya cukup berbahagia karena bisa konsisten menulis. Sejak memutuskan untuk mengurangi terpaan media sosial dan menggantinya dengan membaca buku fisik, ternyata membuat ide untuk menulis apapun jadi lebih mengalir dibanding sebelumnya.

    Merayakan sesuatu tidak harus secara besar-besaran, saya bisa cukup menikmati momen-momen kecil dan merayakannya sendirian.

    Ya misalnya seperti malam ini, hari ini menandai tercapainya 90 hari menulis tanpa putus sejak awal tahun 2026. Meskipun ada banyak hal yang ingin saya rayakan, namun ternyata begini saja sudah cukup, mungkin efek umur ya haha.

  • Nggak Semua Orang Mudik

    Selama seminggu terakhir ini setiap ketemu sama orang yang dikenal, selain mengusahakan untuk bersalaman dalam rangka bulan syawal, juga sekaligus bertanya mudik kemana.

    Sebagian orang menjawab tidak mudik karena memang orang asli Jakarta jadi mudiknya ya paling ke wilayah lain namun masih di Jakarta.

    Tapi seperti tulisan saya sebelumnya, memang benar ada beberapa orang yang sengaja tidak mudik ke kampung halaman karena memang tidak punya alasan lain.

    Rata-rata mereka memutuskan untuk liburan bersama keluarga sendiri, menikmati momen IdulFitri bersama keluarga kecilnya, atau ada juga yang memang sengaja tidak mudik karena menghindari keluarga besarnya.

    Ini adalah lebaran tahun pertama kami di Jakarta, selama ini menganggap semua orang yang di Jakarta itu bakalan mudik ke kampung halamannya masing-masing.

    Tapi ternyata, nggak semua orang mudik.

  • Selamat Lebaran 1447 H

    Mohon maaf lahir dan batin, hari ini kami sudah berlebaran, berbeda dengan tanggal yang ditetapkan oleh Pemerintah. Tidak mengapa karena ini juga bukan pertama kalinya terjadi.

    Semoga kita semua diberi kesehatan sehingga bisa berjumpa dengan Ramadhan tahun depan dan menjadi orang yang lebih baik daripada sebelumnya.

    Tidak perlu membahas mengenai perbedaan hari, karena yang penting yakin dengan apa yang sudah diyakini.

    Selamat Lebaran 1447 H
  • Sementara WFH Sampai Lebaran

    Hari Senin ini saya sedang WFH di Jogja sampai Lebaran, jadi ketika beberapa orang sudah mulai menikmati cuti dan jalan-jalan di Jogja, saya masih standby di depan laptop dulu sampai tanggal 18 Maret mendatang.

    Rasanya aneh haha. Sebab nggak terasa sudah hampir setahun ini WFO, sudah mulai punya ritme dan rutinitas, sekarang kembali lagi ke WFH yang sudah saya lakukan selama bertahun-tahun sebelumnya.

    Apa yang beda?

    WFH memang memiliki banyak keuntungan, salah satunya adalah efektivitas waktu. Sebab dengan beberapa langkah saja dari kamar, saya sudah siap untuk bekerja selama koneksi Internet dan listrik sedang bersahabat.

    Tapi, efek WFO selama hampir setahun ini memunculkan kebiasaan baru untuk membantu pekerjaan saya, salah satunya adalah kecepatan koordinasi.

    Memang tidak dipungkiri, ketika kita WFH itu meskipun sudah memiliki koneksi Internet level dewa, tidak akan bisa menandingi kecepatan colek dan/atau nyamperin ke meja.

    Jadi, tadi itu rasanya ada agak terasa lambat dalam membuat keputusan atau strategi. Keputusan yang bisa didapatkan dalam hitungan menit, harus menunggu beberapa jam sampai bisa terhubung dan berkoordinasi.

    Memang ini tidak terjadi setiap hari, tapi ternyata ketika kita berada di kebiasaan baru dan kembali ke kebiasaan lama, maka situasi menjadi sedikit berbeda.

  • Apakah Kamu Mudik?

    Ini adalah pertanyaan basa-basi saya ke beberapa kenalan di kantor, beberapa hari sebelum saya mudik ke Jogja.

    Ternyata, dari beberapa orang yang saya tanyain itu, tidak semuanya berencana mudik pada lebaran tahun ini. Alasannya bermacam-macam, mulai dari sedang shift kerja, ada rencana mengajak keluarganya untuk datang ke Jakarta, atau yang memang tidak berniat pulang kampung.

    Dulu saya berpikir, ketika seseorang pergi merantau ke tempat yang jauh, pasti ketika lebaran akan berusaha menyempatkan pulang kampung, bertemu dengan orang tua dan keluarga. Jarak dan waktu yang ditempuh akan terbayarkan ketika pada hari besar itu bisa berkumpul dengan keluarga.

    Itu yang saya bayangnya saat itu.

    Namun setelah ngobrol dengan beberapa orang tadi, saya menyadari ada sebagian orang yang memang tidak bisa dan tidak ingin mudik. Alasannya bermacam-macam, seperti yang sudah saya sebutkan tadi.

    Tapi ada satu jawaban yang buat saya berkesan.

    “Buat apa mudik? saya tiap hari ngobrol dengan keluarga besar di grup Whatsapp, semua informasi ada disana, mulai yang bermanfaat sampai yang hoax. Pada update status dan kirim-kirim video lucu juga setiap hari, jadi buat apa mudik?”

    Bener juga sih dan itu valid.

    Dulu orang mudik karena terpisah oleh jarak dan waktu, namun ketika masalah jarak dan waktu itu sudah diselesaikan dengan teknologi, pelan-pelan orang akan merasa itu bukan alasan untuk melakukan perjalanan jauh dan mahal itu.

    Perlu alasan baru untuk mudik, tidak bisa sekadar masalah jarak dan waktu semata.

    Apakah kamu mudik Lebaran tahun ini? Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan hingga kembali lagi ke rumah.

  • THR Perdana Buat Apa?

    Yay! ini adalah waktu yang biasa dinanti oleh sebagian besar karyawan ketika menjelang hari raya Idulfitri. THR (Tunjangan Hari Raya) biasanya sudah mulai dibagikan. Buat Anda yang baru pertama kali mendapatkannya, selamat!

    THR ini sebaiknya buat apa ya?

    Saya asumsikan Anda baru pertama kali bekerja dan ingin membelanjakan THR dengan lebih bijak, apalagi ekonomi 2026 lagi chaos, kita pakai pendekatan investasi pada aset tak terlihat tapi punya nilai tukar tinggi.

    The Access Fund

    Jangan cuma beli barang, beli akses. Pakai THR-mu untuk bayar annual membership ke perkumpulan profesional, tiket konferensi industri kelas atas, atau akses ke private circledi Discord/Telegram yang isinya para mentor/ahli di bidangmu.

    Kenapa? Di ekonomi 2026, informasi eksklusif dan koneksi “orang dalam” adalah mata uang yang jauh lebih mahal daripada bunga deposito.

    The Burnout Insurance

    Dunia kerja pertama itu melelahkan, coba masukkan 30% THR ke instrumen likuid yang hanya boleh disentuh untuk “Emergency Healing”. Bukan sekadar nongkrong, tapi dana untuk terapi profesional atau staycation total saat kamu hampir resign karena stres.

    Kenapa? Menjaga kewarasan adalah strategi finansial. Biaya ke psikiater atau kehilangan penghasilan karena burnout itu jauh lebih mahal.

    The Brand Fund

    Investasikan THR untuk membangun Personal Brand secara serius. Beli domain namamu sendiri untuk portofolio (ya seperti domain saya ini), bayar fotografer profesional buat  headshot LinkedIn, atau beli lisensi software kreatif yang selama ini kamu pakai versi bajakan.

    Kenapa? Saat ekonomi sulit, orang hanya merekrut/bekerja sama dengan mereka yang terlihat paling kredibel. Jadikan dirimu “aset” yang bisa ditemukan di Google.

    Gimana? mudah-mudahan THR-mu masih tersisa ya, belum terlambat untuk coba membeli salah satu ide di atas.