Tag: Jogja

  • Kereta Yang Tepat Waktu

    Hari Minggu ini kami secara mendadak harus pulang ke Jogja karena ada suatu hal yang harus dilakukan di hari Seninnya. Saya langsung memilih menggunakan kereta api untuk moda transportasinya, kenapa? karena tepat waktu.

    Kami harus ada di Jogja pada hari Senin pagi, jadi satu-satunya cara adalah pulang di hari Minggu jam berapapun itu. Berhubung hari Minggu adalah waktu CFD (Car Free Day), maka tidak mungkin berangkat ke Gambir pada pagi hari, eh lebih tepatnya karena belum tau triknya sih.

    Naik pesawat? hmm.. sori nggak dulu.

    Saya pikir tiket kereta ke arah Jogja untuk hari Minggu itu bakalan sepi karena biasanya yang ramai adalah arah sebaliknya. Ternyata saya keliru, semuanya penuh! hahaha.

    Akhirnya kami dapat tiket Taksaka Luxury jam 14:00 yang akan sampai di Jogja jam 20:10.

    Disinilah saya bersyukur naik kereta api, kenapa? karena tepat waktu.

    Saran sebagai warlok Jogja yang sering naik kereta, buat kalian yang mau trip ke Jogja naik kereta, pastikan sebelum berangkat itu melakukan order taksi online dulu. Saya biasanya memanfaatkan Grab Booking Advance untuk memesan taksi, nanti tinggal masukin jam berapa mau dijemput.

    Karena ketepatan waktu kereta api inilah saya selalu yakin bahwa jam yang saya input akan pas, apalagi estimasi kedatangan saya jam 20:10 itu termasuk kondisi dimana Stasiun Tugu Yogyakarta sedang ramai-ramainya.

    Singkat cerita, saya sudah masuk ke Grab di jam 20:25 karena nunggu mobil Grab antri ke area penjemputan dan sudah sampai rumah sekitar jam 21:00.

    Saya suka ketika rencana berjalan dengan baik.

  • Mengambil Hak Orang Lain Tanpa Sadar

    Pagi tadi, saat menyetir ke perjalan mudik, awalnya perjalanan lancar karena kami berangkat dari Jogja tepat sehabis Subuh. Setiba di Pasar Ambarawa kami tertahan hampir 15 menit lamanya karena kemacetan yang menurut saya tidak perlu terjadi.

    Setelah 15 menit berlalu dan kami berhasil melewati kemacetan itu, saya membayangkan terkadang kita itu sering mengambil hak orang lain tanpa sadar.

    Apa saja contohnya?

    1. Menahan traffic. Misalnya ketika berjalan pelan di lajur yang tidak semestinya, memotong kendaraan lain dengan agresif, menyeberang jalan sesuka hati, memutar balik pada area terlarang.
    2. Tidak lurus saf saat shalat berjamaah. Tumit tidak berada di dalam area namun malah lebih mundur ke belakang, akibatnya mengambil area sujud jamaah di belakangnya.
    3. Parkir mobil di jalan depan rumah, mengakibatkan kendaraan tetangga kesulitan untuk lewat atau parkir di garasinya. Punya dua mobil padahal garasi cuma satu, atau malah punya mobil tapi nggak punya garasi.
    4. Tidak mengembalikan uang atau barang yang dipinjam.

    Masih banyak banget contoh korupsi dan pencurian kecil-kecilan ini. Biasanya semua dilakukan tanpa sadar karena selama ini tidak ada yang menegur, sehingga merasa yang dilakukan itu wajar dan tidak salah.

    Padahal, ketika kita melakukan itu dan ada doa dari orang lain yang terambil haknya, maka semua dosa akan berpindah, rezeki akan ditukar, dan kita menjadi merugi.

    Tulisan ini saya buat sebagai pengingat ke diri sendiri supaya selalu menjaga lisan dan perilaku. Mudah-mudahan di hari terakhir Ramadhan ini kami dan kita semua bisa menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya.

    Aamiin.

  • Sementara WFH Sampai Lebaran

    Hari Senin ini saya sedang WFH di Jogja sampai Lebaran, jadi ketika beberapa orang sudah mulai menikmati cuti dan jalan-jalan di Jogja, saya masih standby di depan laptop dulu sampai tanggal 18 Maret mendatang.

    Rasanya aneh haha. Sebab nggak terasa sudah hampir setahun ini WFO, sudah mulai punya ritme dan rutinitas, sekarang kembali lagi ke WFH yang sudah saya lakukan selama bertahun-tahun sebelumnya.

    Apa yang beda?

    WFH memang memiliki banyak keuntungan, salah satunya adalah efektivitas waktu. Sebab dengan beberapa langkah saja dari kamar, saya sudah siap untuk bekerja selama koneksi Internet dan listrik sedang bersahabat.

    Tapi, efek WFO selama hampir setahun ini memunculkan kebiasaan baru untuk membantu pekerjaan saya, salah satunya adalah kecepatan koordinasi.

    Memang tidak dipungkiri, ketika kita WFH itu meskipun sudah memiliki koneksi Internet level dewa, tidak akan bisa menandingi kecepatan colek dan/atau nyamperin ke meja.

    Jadi, tadi itu rasanya ada agak terasa lambat dalam membuat keputusan atau strategi. Keputusan yang bisa didapatkan dalam hitungan menit, harus menunggu beberapa jam sampai bisa terhubung dan berkoordinasi.

    Memang ini tidak terjadi setiap hari, tapi ternyata ketika kita berada di kebiasaan baru dan kembali ke kebiasaan lama, maka situasi menjadi sedikit berbeda.

  • Apakah Kamu Mudik?

    Ini adalah pertanyaan basa-basi saya ke beberapa kenalan di kantor, beberapa hari sebelum saya mudik ke Jogja.

    Ternyata, dari beberapa orang yang saya tanyain itu, tidak semuanya berencana mudik pada lebaran tahun ini. Alasannya bermacam-macam, mulai dari sedang shift kerja, ada rencana mengajak keluarganya untuk datang ke Jakarta, atau yang memang tidak berniat pulang kampung.

    Dulu saya berpikir, ketika seseorang pergi merantau ke tempat yang jauh, pasti ketika lebaran akan berusaha menyempatkan pulang kampung, bertemu dengan orang tua dan keluarga. Jarak dan waktu yang ditempuh akan terbayarkan ketika pada hari besar itu bisa berkumpul dengan keluarga.

    Itu yang saya bayangnya saat itu.

    Namun setelah ngobrol dengan beberapa orang tadi, saya menyadari ada sebagian orang yang memang tidak bisa dan tidak ingin mudik. Alasannya bermacam-macam, seperti yang sudah saya sebutkan tadi.

    Tapi ada satu jawaban yang buat saya berkesan.

    “Buat apa mudik? saya tiap hari ngobrol dengan keluarga besar di grup Whatsapp, semua informasi ada disana, mulai yang bermanfaat sampai yang hoax. Pada update status dan kirim-kirim video lucu juga setiap hari, jadi buat apa mudik?”

    Bener juga sih dan itu valid.

    Dulu orang mudik karena terpisah oleh jarak dan waktu, namun ketika masalah jarak dan waktu itu sudah diselesaikan dengan teknologi, pelan-pelan orang akan merasa itu bukan alasan untuk melakukan perjalanan jauh dan mahal itu.

    Perlu alasan baru untuk mudik, tidak bisa sekadar masalah jarak dan waktu semata.

    Apakah kamu mudik Lebaran tahun ini? Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan hingga kembali lagi ke rumah.

  • Ternyata Perlu Hibernasi

    Apa yang akan saya lakukan ketika sampai di Jogja? Itu adalah pikiran saya ketika dalam perjalanan mudik kemarin. Ada beberapa kegiatan yang sudah direncanakan di hari Minggu ini, mulai dari pengecekan beberapa area di rumah yang memang sudah perlu ada perawatan, hingga melakukan beberapa hal yang tertunda.

    Tapi, manusia hanya bisa berencana.

    Hari Minggu ini, selepas mandi, masih jam 9.30 pagi, mata rasanya berat sekali.

    Sepertinya tidur sebentar oke juga ya? Paling 30 menit aja untuk kemudian lanjut melakukan sesuatu.

    Tapi ternyata, rencana 30 menit itu bablas sampai 5 jam! Wkwkwkwk… Iya, saya bangun menjelang Ashar.

    Rupanya badan ini sedang minta hibernasi sejenak, dia tau kalau sekarang sedang di rumah dan minta diprioritaskan untuk sementara.

    Jadilah, hari Minggu pagi saya dipakai untuk tidur siang.

  • Mudik (duluan) Lebaran 2026

    Yak, saya sudah di Jogja untuk mulai Work From Home (WFH) sampai Lebaran 2026, nanti saya akan kembali ke Jakarta pada Lebaran hari kedua (versi Pemerintah) sebagai ganti sudah mudik duluan di lebaran tahun ini.

    Perjalanan ke Jogja naik kereta cukup nyaman karena situasinya belum ramai, jadi aura mudiknya memang nggak terasa. Sampai di Stasiun Tugu Jogja juga rasanya normal saja, seperti weekend pada umumnya.

    Kenapa mudik duluan? Mungkin lebih ke parno ya, ini adalah mudik pertama kami sejak memutuskan pindah ke Jakarta. Jadi kami membayangkan situasi mudik yang ramai itu bakal melelahkan, ditambah nanti harus melakukan banyak hal yang jika ditumpuk semuanya mendekati hari Lebaran, tidak akan cukup.

    Jadilah saya memutuskan untuk mengambil waktu mudik di awal namun menggantinya dengan kembali ke kantor juga lebih awal. Biar nanti kolega saya yang bisa liburan lebih panjang.

    Bagaimana Jogja?

    Seperti biasa, selalu syahdu dengan guyuran hujan ketika kami sampai di Stasiun Jogja. Kebetulan mobil jemputan kami sudah datang sehingga tidak perlu menunggu lama. Sopir kami cerita kalau tiap sore selalu hujan, dan benar hujannya awet sampai malam hari.

    Infonya dari BMKG fenomena La Nina sudah berakhir di akhir Februari lalu, tapi sepertinya sisa-sisanya masih akan terasa sampai akhir minggu ini.