Tag: Filosofi hidup

  • Apa Rumus Kebahagiaan Sejati?

    Kebahagiaan sejati adalah menikmati masa kini, tanpa ketergantungan yang cemas pada masa depan.

    Pagi ini sehabis sahur, secara random saya mendapatkan konten di timeline Reels mengenai stoikisme. Dikatakan bahwa untuk berbahagia, kita cukup fokus pada hari ini tanpa mengkhawatirkan berlebih mengenai masa depan dan jangan pula terbebani dengan masa lalu.

    Menarik, saya kemudian iseng mencari siapa sih yang bilang itu?

    Pencarian saya sampai pada orang bernama Lucius Annaeus Seneca, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam filsafat Stoikisme, dikenal karena ajarannya yang praktis mengenai ketenangan batin, penggunaan waktu, dan ketahanan mental.

    “Verum gaudium est … non suspensa ex futuro cupiditas.”

    Kalimat ini berasal dari karya Seneca yang berjudul Epistulae Morales ad Lucilium (Surat-surat Moral kepada Lucilius)

    Dalam konteks yang lebih luas, Seneca menuliskan:

    • Bahasa Latin: “Cuius rei, inquis, admonere me vis? id scilicet, ut habeas verum gaudium. … verum gaudium est … non suspensa ex futuro cupiditas.”
    • Bahasa Inggris: “True happiness is to enjoy the present, without anxious dependence upon the future.”
    • Bahasa Indonesia: “Kebahagiaan sejati adalah menikmati masa kini, tanpa ketergantungan yang cemas pada masa depan.”

    Seneca menekankan bahwa pikiran yang terus-menerus khawatir tentang apa yang akan terjadi esok hari tidak akan pernah bisa tenang. Dengan fokus pada apa yang kita miliki dan lakukan saat ini, kita melepaskan diri dari rantai kecemasan yang sering kali justru merusak kebahagiaan yang sudah ada di depan mata.

    Lalu saya penasaran, apakah Islam juga membahas mengenai topik ini?

    Dalam Al-Qur’an, konsep mengenai menikmati masa kini dan melepaskan kecemasan terhadap masa depan sering kali dikaitkan dengan sifat 

    “La khaufun ‘alaihim wala hum yahzanun”.

    Meskipun redaksinya berbeda dengan filsafat Stoikisme Seneca, pesan intinya sangat selaras: membebaskan diri dari belenggu masa lalu dan kecemasan masa depan melalui ketenangan hati.

    Saya coba cari ayat yang membahas ini, dan menemukan beberapa. Mohon maaf jika ada kesalahan tafsir.

    1. Konsep “tidak ada kekhawatiran” (masa depan) dan “tidak bersedih hati” (masa lalu) muncul berkali-kali dalam Al-Qur’an sebagai ciri orang yang beriman dan bertakwa. Salah satunya dalam Surah Al-Baqarah: 277
    2. Terkait topik kecukupan, ini sama dengan “menikmati masa kini tanpa kekhawatiran”. Dalam Islam, ini disebut dengan Qana’ah (merasa cukup). Al-Qur’an mengingatkan agar kita tidak terus-menerus memandang apa yang diberikan kepada orang lain (ingin lebih/masa depan), melainkan mensyukuri apa yang ada (Thaha: 131).
    3. Dengan meyakini bahwa masa depan ada di tangan Allah (Tawakkal), seseorang bisa fokus menikmati dan beramal di masa kini tanpa rasa cemas yang berlebihan (At-Taubah: 51)

    Jadi, sebaiknya kita memang hanya perlu fokus pada amal hari ini karena hari esok adalah rahasia Allah.