Bermain 3D.City

 

3d-city-menu

Sudah pernah main SimCity? Game simulasi dimana kita menjadi walikota untuk memanajemen kota yang meliputi pembangunan infrastruktur hingga menyenangkan warganya. Saya sudah tidak ingat sekarang sudah sampai versi berapa, tapi yang jelas fiturnya semakin kaya, tingkat kesulitannya meningkat, kecerdasan dari setiap karakter juga semakin oke, dan tentunya spek komputer untuk memainkannya sudah semakin tinggi. Bagaimana dengan yang spek komputernya pas-pasan?

Saya baru saja mencoba 3D.City, sebuah game mirip SimCity berbasis web yang dibangun dengan library three.js dan Sea3D. Kesan pertama, gamenya sederhana karena memang kalo bicara texture, kurang detail dibandingkan dengan SimCity. Tapi untuk sekelas game berbasis web, gameplay dan fitur yang ditawarkan sudah hampir menyamai SimCity. Saat memulai game, kita akan diberikan sebidang tanah yang bisa kita kelola. Sama dengan SimCity dimana kita harus mengawali dengan menetapkan wilayah perumahan, bisnis, dan pabrik. Lalu membangun perusahaan listrik dan disambung dengan tiang listrik. Sisanya, game akan berjalan sendiri.. namanya juga simulator. Kita tinggal merespon apapun yang muncul.

3d-city

Coba deh main 3D.City, lumayan buat iseng dikala senggang. Tapi pastikan koneksi Internet lagi bagus ya.

URL Shortener Indonesia

sid

Layanan pemendek alamat url (url shortener) sebetulnya sudah menjamur, sebut saja bit.ly yang legendaris. Namun layanan tersebut berada di luar negeri sehingga untuk mengaksesnya perlu bandwidth internasional, padahal kita bisa saja membuatnya berada di Indonesia supaya cukup menggunakan jaringan IIX untuk pemanfaatannya. Lagipula skrip untuk membuat layanan ini cukup banyak, tinggal beli domain, install dan konfigurasi maka kita sudah langsung memilikinya. Tapi, tentunya butuh biaya yang tidak sedikit untuk membangun, ditambah lagi susah buat dikasih iklan.

Pandi, sebagai layanan pengelola domain memberikan solusi url shortener, namanya cukup sederhana yaitu S.ID. Tampilannya cukup sederhana dengan background lokasi destinasi di Indonesia. Penggunaan fiturnya juga mudah, hanya tinggal paste alamat url yang ingin dipendekkan kemudian kita langsung diberi alamat unik yang bisa dibagikan melalui social media. Layanan S.ID ini memberikan fitur member supaya bisa melihat statistik penggunaan.

sidosen

Nah, url unik yang diberikan itu ternyata bisa diedit. Selayaknya mainan baru, maka saatnya untuk ngetag nama seperti yang terlihat di atas hihihi…. Anda bisa membuka blog saya ini dengan url s.id/osen

 

Berapa Lama Kira-Kira Kita Hidup?

populationio

Judulnya agak ngeri-ngeri sedap, berapa lama kita akan hidup? Ini tidak ada hubungannya dengan hal-hal religius, tapi semuanya berdasarkan data United Nation mengenai prospek harapan hidup seseorang di suatu negara [cite]http://esa.un.org/wpp/[/cite]. Data tersebut merangkum dari seluruh dunia kemudian melakukan analisis mengenai berapa lama kira-kira seorang warga negara dapat bertahan hidup. Misalnya nih, negara yang sedang dilanda perang akan menghasilkan angka harapan hidup yang kecil, kebalikan dengan negara yang damai.

Kebetulan saya sedang browsing Hacker News trus nemu startup Population.io yang memberikan data harapan hidup tadi dengan bentuk yang menarik. Menariknya karena semuanya ditampilkan dalam mode infografik, dimulai dengan diminta mengisi tanggal lahir, negara asal, dan jenis kelamin. Kemudian Population.io akan menyajikan data berdasarkan sumber data. Tampilannya bagus dan mudah dibaca.

Indonesia memiliki angka harapan hidup yang bagus, sekitar 70 tahunan lebih. Ini merupakan umur rata-rata ya, jadi dengan menggunakan layanan ini, kita bisa “memprediksi” kapan kita akan meninggal. Tapi hey! Ini ilmiah ya, harap jangan dibenturkan dengan agama dan religius. Karena tentunya yang namanya hidup itu masih ada di tangan Tuhan. Setidaknya, ada aplikasi yang menyajikan data dengan menarik.

Internet Sehat Jilid 2

138719920

Dua belas tahun yang lalu, ICT Watch mencetuskan gerakan Internet Sehat. Saat itu saya baru saja terdaftar sebagai mahasiswa baru Teknik Informatika, suatu bidang yang membuat saya menjadi aktivis Internet, pegiat IT, profesional IT, hingga sekarang menjadi dosen IT. Selama masa itu saya melewati berbagai macam perkembangan teknologi di Indonesia, mengalami koneksi Internet yang pas-pasan dan mahal hingga sekarang punya koneksi Internet sendiri di rumah.

Berbicara tentang Internet Sehat, bersama kawan-kawan di Internet Club Unisbank Semarang saat itu giat menyebarkan cara berinternet dengan baik. Saat itu saya sudah bekerja di Telkom, kemudian bikin project Internet Goes To School, Internet Goes To Pesantren bersama Suara Merdeka hingga akhirnya proyek itu dijadikan proyek tetap antara Telkom dengan Unisbank. Merasa bahagia dapat meninggalkan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Saat itu fokus kami adalah mengurangi kunjungan ke website porno dengan cara mengenalkan konten-konten positif dan mengajak peserta untuk ngeblog sehingga harapannya konten pornografi dapat berkurang dan tingkat kunjungannya menurun. Hasilnya lumayan, blogger baru mulai bermunculan.

Ketika tahun 2010 ICT Watch mematenkan Internet Sehat, maka sekarang saya menghindari menggunakan kalimat itu untuk berbagai kegiatan. Sekarang saya adalah dosen di Universitas Semarang yang terikat dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, maka saya masih berkewajiban mengadakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Meskipun tidak lagi menggunakan kata Internet Sehat, namun saya masih bisa mengajak orang lain untuk berinternet secara sehat.

Sekarang apa lagi?

Demokrasi di Indonesia sedang berkembang, masyarakat mulai melek politik berkat informasi yang semakin cepat didapatkan. Internet berperan serta dalam kondisi politik kali ini, dapat dilihat betapa social media sangat aktif untuk menjaring simpatisan baru yang berasal dari usia produktif, hal ini juga yang membuat jumlah pemilih pada pemilu legislatif dan presiden semakin meningkat, hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal, salah satunya dari Internet.

Sayangnya, Internet yang bebas dan (sudah) murah ini kurang digunakan secara bijak oleh generasi (yang jika saya boleh bilang) baru. Konten yang beredar sekarang tidak lagi didominasi oleh konten porno, namun sudah berkembang menjadi konten jahat. Kenapa jahat? Lihat saja “debat kusir” di forum seperti Kaskus atau bagian komentar di Detik.com, bahkan jika selo, silakan liat di timeline Facebook atau Twitter, nanti akan menemukan diskusi debat kusir yang menggunakan kalimat-kalimat yang bernada hinaan dan merendahkan orang lain. Mungkin niatnya bercanda, namun karena Internet itu menggunakan bahasa teks, maka candaan dan hinaan akan tipis bedanya. Tidak ada nada dan logat, yang ada hanyalah konten yang terbaca.

Kita perlu menggalakkan gerakan Internet Sehat Jilid 2, sasarannya tidak lagi hanya konten porno, namun juga memberikan edukasi bahwa komentar jahat, bullying, dan hinaan di Internet itu sama jahatnya dengan ucapan verbal. Sama seperti upload foto bugil, informasi itu tidak akan pernah hilang di Internet. Sekarang memang belum terasa akibatnya, tapi nanti, suatu saat pasti akan terasa.

Project Pengabdian Kepada Masyarakat saya selanjutnya akan fokus ke bagian ini. Berat? Pasti, tapi saya yakin pasti nanti akan banyak pihak yang membantu. Mari kembalikan Internet pada tujuan semula, untuk berbagi kebaikan. Semangat!

 

Upgrade ke SSD

IMG_20141112_230517

Ceritanya saya baru saja mengupgrade harddisk laptop ASUS N43SL saya menjadi SSD. Hal ini karena harddisk yang lama, performanya sudah mulai menurun. Ciri-cirinya kecepatan read/write mulai lambat, trus sudah mulai bunyi-bunyi ngelitik aneh pada saat harddisk sedang busy atau idle. Nah, daripada nanti keburu mati lebih baik harddisk itu saya pensiunkan dini saja, mungkin dia sudah lelah melayani saya selama 4 tahun terakhir. Lagipula, jika dipaksakan maka aktivitas menyelamatkan dunia (baca: ngegame) akan terhambat, karena suka jadi ngelag. Padahal spek laptop saya cukup tinggi, trus RAM sudah 8GB.

Tadinya saya pengen beli SSD merk Plextor M6 Pro 128GB, tapi karena produk ini masih termasuk baru, jadi nyari di Semarang masih agak susah. Kemudian saat jalan-jalan di JEC Jogja pas ada pameran komputer, disana yang tersedia adalah ADATA Premiere Pro SP900. Berhubung selisih harga yang lumayan, akhirnya saya memutuskan untuk membeli SSD merk ADATA saja.

Jika membaca-baca review mengenai komparasi SSD, pasti merk ADATA akan memiliki nilai yang terendah, ditambah faktor controller SandForce yang kurang bagus, dan kecepatan read/write yang lebih jelek dibandingkan merk lain. Tapi menurut saya, semua yang dikatakan itu nggak terasa tuh. Bisa jadi karena saya masih terbiasa dengan kecepatan harddisk lama, sehingga ketika upgrade ke SSD maka saya merasa segala sesuatunya menjadi lebih cepat. Lagipula harganya lebih murah…

Laptop sekarang sudah saya install dengan Windows 8.1 Pro (orisinal lho) dengan spek Intel i5-2410M, RAM 8GB, Nvdia GeForce GT 540M 2GB, SSD ADATA Premiere Pro SP900 128GB. Diajak main game Sniper Elite 3 dan Call of Duty Ghost bisa jalan tanpa patah-patah. Tadinya sebelum upgrade ke SSD, buat loading saja lama banget.

Bagaimana dengan harddisk lama? Trus kapasitasnya khan kecil?

Iya, ini sempat jadi pertimbangan ketika sebelum saya memutuskan untuk upgrade ke SSD. Selain kapasitas SSD yang kecil, jumlah file saya terbilang cukup banyak. Kalau dipindah semua tentunya nggak cukup dan eman-eman. Apalagi SSD sebaiknya tidak untuk menyimpan file yang sering ditulis, karena SSD lebih oke untuk proses read. Maka dari itu, saya putuskan untuk mengubah harddisk lama menjadi external harddisk dengan membelikan enclosure.

Saya beli enclosure dengan merk WD, biar samaan dengan merk harddisk sekalian. Belinya di salah satu toko komputer di Selokan Mataram Jogja, harganya murah.. hanya 80rb saja sudah termasuk dapat leather case keren. Selain itu karena sudah pakai Windows 8.1 dan kebetulan saya turah-turah bandwidth, maka penyimpanan cloud saya manfaatkan betul, sehingga data yang tersimpan di SSD hanya OS dan software saja. Sisanya ada di tempat lain yang bisa saya akses kapan saja.

IMG_20141112_230657

Akhirnya, saya bisa menyimpulkan bahwa jangan buru-buru untuk ganti laptop. Tadinya saya sudah berpikiran untuk mengganti laptop saya ini, hawong sudah 4 tahun. Tapi ternyata dengan upgrade RAM dan SSD ternyata sudah cukup untuk meningkatkan performa dan bisa bersaing dengan laptop keluaran generasi terbaru. Buktinya? Bisa diajak main game yang berat.

Akhirnya… Once you go SSD, you’ll never back.