Cara Menggunakan BPJS Kesehatan di Jogja

Ceritanya kemarin (25 Juni 2019), untuk pertama kalinya saya menggunakan layanan BPJS Kesehatan setelah 2 tahun tinggal di Jogja. Sebelumnya saya baru sekali menggunakan BPJS Kesehatan di Semarang. Saya merasakan ada banyak peningkatan yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan, terutama dalam hal layanan dan sisi teknologi. Tentunya ini adalah hal yang patut diapresiasi karena ada proses peningkatan kualitas.

Ketika pindah ke Jogja, hal pertama yang saya lakukan adalah mengurus administrasi BPJS Kesehatan yang saya miliki. Beruntung instansi tempat saya bekerja dulu masih mau menanggung iuran BPJS Kesehatan hingga sekarang, sehingga saya tidak perlu memindahkan sistem penagihannya meskipun kelas yang saya terima tidak bisa dinaikkan ke kelas 1. Menurut saya tidak masalah, karena saya juga memiliki asuransi kesehatan lain seandainya perlu penanganan yang tidak bisa dicover oleh BPJS.

Kedua, saya perlu memindahkan lokasi Faskes 1 yang berada di Jogja. Ternyata, prosedurnya sangat mudah! Cukup instal aplikasi BPJS Kesehatan di smartphone dan semuanya bisa diatur langsung sendiri. Saya memindahkan lokasi Faskes 1 saya ke Klinik 24 Jam Firdaus Yogyakarta hanya dengan beberapa kali klik saja. Tapi yang perlu diingat, perubahan data akan efektif di awal bulan. Jadi misalnya Anda ingin melakukan perubahan lokasi Faskes 1, sebaiknya di akhir bulan saja supaya nanti bisa langsung digunakan di awal bulan.

Oh iya, kita bisa mengubah lokasi Faskes 1 setiap 3 bulan sekali, jadi misalnya Anda tidak puas dengan layanan Faskes 1 yang terdaftar, bisa mencari lokasi baru dan memindahkan ke lokasi tersebut. Ada banyak faktor mengenai alasan pemindahan ini, misalnya kepadatan pengunjung, layanan, dan tentunya faktor dokter yang merawat. Silakan pilih-pilih lokasi Faskes mumpung masih sehat.

Kembali ke cerita kemarin

Saya berangkat pagi-pagi ke Klinik 24 Jam Firdaus dan langsung parkir di tempat yang telah disediakan. Saat datang ke meja pendaftaran saya cukup menunjukkan kartu BPJS Kesehatan melalui smartphone, jadi saya tidak memiliki kartu fisiknya. Oleh petugas, akan ada validasi data dan data saya dinyatakan valid sehingga saya bisa memanfaatkan layanan BPJS di klinik tersebut.

Proses selanjutnya, saya rasa akan sama saja seperti di klinik atau rumah sakit. Ada proses antrian, pemeriksaan, dan pengambilan obat. Kebetulan karena saya datang pagi-pagi maka prosesnya cepat, saya juga tidak tertarik untuk mencari tau apakah ada perbedaan layanan antara pasien BPJS dan bukan. Intinya saya dilayani dan mendapatkan obat yang diresepkan. Semuanya gratis!

Bagaimana obatnya? yaa.. sudah pasti obat generic.

Bagaimana jika tidak sembuh?

Jangan khawatir, cukup datang lagi setelah obat habis (biasanya diberi resep untuk pemakaian 3 hari). Nah, canggihnya aplikasi BPJS ini adalah bisa menampilkan riwayat periksa beserta penanganannya. Sehingga diharapkan penanganan pasien bisa berjenjang dengan berdasarkan data, misalnya perlu dirujuk ke rumah sakit yang tingkatnya lebih tinggi, data-data tersebut akan membantu diagnosa selanjutnya.

Menurut saya, ini adalah hal yang perlu diketahui oleh calon pengguna BPJS Kesehatan, bahwa prosedur penanganannya memang berjenjang. Berawal dari Faskes 1, kemudian bisa naik ke Rumah Sakit kelas D atau C, kemudian bila masih perlu penanganan lanjut baru ke Rumah Sakit kelas B atau A. Memang prosedurnya terasa ribet, namun menurut saya ini adalah hal terbaik yang Pemerintah bisa lakukan untuk berusaha menjamin kesehatan warganya.

Tips

Mumpung masih sehat, mungkin bisa ikuti tips berikut:

  1. Cari tahu lokasi Faskes 1 yang paling nyaman dan 24 jam. Tidak perlu dekat, tapi yang penting bisa terjangkau dalam waktu singkat.
  2. Beli premi asuransi kesehatan lain yang menanggung rawat inap. Misalnya ada penanganan lanjut, tinggal minta rujukan dari Faskes 1 ke rumah sakit yang Anda inginkan, nanti biayanya dicover oleh asuransi itu.
  3. Jaga kesehatan.

Maksud poin 2 di atas adalah, saya memiliki asuransi kesehatan lain yang bisa saya gunakan di semua rumah sakit dimanapun dengan kelas VIP. Kenapa saya perlu membeli asuransi lain? karena BPJS Kesehatan saya hanya menanggung di Kelas 2, sehingga saya merasa perlu meningkatkan kelasnya supaya nantinya bisa mendapatkan pelayanan terbaik seandainya memang dirasa perlu. Jadi BPJS untuk rawat jalan, asuransi satunya untuk rawat inap.

Rugi dong? Enggak juga sih, saya anggap investasi, setidaknya saya dan keluarga sudah terjamin untuk masalah kesehatan dan bisa langsung melakukan tindakan medis sebagai opsi pertama.

6 tanggapan untuk “Cara Menggunakan BPJS Kesehatan di Jogja

  1. Layanan BPJS memang sepertinya terus mengalami perbaikan ya? Walaupun di tingkat tenaga kesehatan tetap ada protes juga karena lambatnya pencairan BPJS untuk mereka.

    Ya semoga saja terus membaik dan menguntungkan semua pihak. Warga sebagai pasien, dan tenaga kesehatan sebagai pelayan warga.

    1. Kalau saya perhatikan, kemarin dokter yang menangani adalah dokter baru. Mungkin ini bisa dijadikan sebagai kawah candradimuka untuk meningkatkan keahlian mereka. Toh kalau tidak tertangani, mereka bisa melanjutkan prosesnya dengan membuatkan rujukan ke tingkat yang lebih tinggi.

Tinggalkan Balasan ke Didut Batalkan balasan